Teropong 59 Tahun Sulawesi Tengah "Seutas Harapan"

Sulawesi Tengah adalah salah satu provinsi yang terletak dijantung pulau sulawesi sebuah wilayah yang membawahi 13 daerah kabupaten/kota. 

Dok. Foto peta Sulwesi Tengah
Sumber : Tataruang.id

Kota Palu, Kab. Donggala, Kab. Poso, Kab. Banggai, Kab. Toli-toli, Kab. Parigi Moutong, Kab. Tojo Una-una, Kab. Morowali, Kab. Banggai Kepulauan,  Kab. Buol, Kab. Sigi, Kab. Banggai Laut dan Kab. Morowali Utara. 

Beragam suku, agama dan budaya mendiami wilayah itu, kekayaan alamnya juga demikian besar hingga Sulawesi Tengah menjadi salah satu dari dua provinsi di indonesia yang mampu mempertahankan tren pertumbuhan ekonominya dimasa hingga pasca pandemi. 13 April 2023 Sulawesi Tengah berusia 59 tahun sebuah usia yang hampir senja untuk mewarnai sebuah perkembangan paripurna bagi kemajuan wilayah itu. 

Sebagai sebuah acuan kemajuan suatu wilayah secara angka, salah satunya diterjemahkan dalam pertumbuhan indeks Pembangunan Manusia-nya (IPM). Data IPM Sulawesi Tengah pada tahun 2022 tercatat sebesar 70,28, angka ini menunjukan Sulawesi Tengah adalah wilayah dengan kategori IPM tinggi. Kenaikan IPM Sulawesi Tengah didorong oleh kenaikan angka harapan hidup rata- rata 68.93 tahun, angka standar hidup layak dengan pengeluaran per- kapita 9.7jt/ tahun dan rata-rata usia harapan lama sekolah 13.32 tahun, dengan pencapaian tersebut kita boleh berbangga namun apakah benar angka- angka demikian adalah wajar untuk sebuah pencapaian negeri yang kaya ini? Atau kemudian angka rata - rata tersebut hanya didominasi oleh satu atau dua daerah dari 13 Kab/ Kota yang ada? 

Jika demikian legitimasi dan substansinya tentu jauh dari harapan kita. Capain tinggi karena akumulasi ini dapat menutup ruang pendukung untuk dapat dilihat secara detail. Usia harapan lama sekolah misalkan dengan rata- rata 13.32 tahun artinya penduduk Sulawasi Tengah tuntas dalam pendidikan sekolah menengah atas atau paling tidak menyelesaikan pendidikan vokasi D1. tetapi apakah ini terjadi disemua daerah?  Selanjutnya untuk usia harapan hidup rata-rata 68.93 tahun dengan banyaknya aktifitas pertambangan dan industri besar di beberapa Kab/Kota di wilayah ini telah menimbulkan pergeseran atau abrasi lingkungan yang pada akhirnya merebut ruang sehat warganya. 

Kita boleh bangga usia harapan hidup rata- rata 68.93 tahun tetapi apakah angka-angka akumulasi ini berhasil mengkomparasi ruang hidup produktif yang lebih besar seperti di wilayah Kab/Kota penghasil PAD sulteng? Tentu tidak. Daerah dengan jumlah industri pertambangan yang besar telah menunjukan kompleksitas ruang sehat yang buruk. Dalam sebuah publikasi media online betahita.id. Aktivis dan peneliti Arianto Sangadji menyampaikan aktivitas produksi nikel di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, menyebabkan ribuan buruh pabrik dan warga menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), hal itu terjadi pada tahun 2019 di lokasi PT Indonesia Morowali Industrial Park (PT IMIP). Arianto mengutip daftar resmi perusahaan tersebut, yang mencatat sekitar 3.400 kasus ISPA yang dirawat di klinik milik PT IMIP. Bukan hanya kariyawan, masyarakat yang tinggal di sekitar area industri juga mengeluhkan gejala yang sama. Masyarakat kerap mengeluh soal debu dan asap dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang menjadi sumber energi smelter raksasa itu.

Lalu bagaiamana dengan Kab/Kota lainnya yang juga sebagai produsen Industri pertambangan besar? Seperti Morowali Utara dan Banggai misalkan? Jika dilihat lebih rigid tentu ruang- ruang sehat yang direbut itu akan sangat besar dampaknya terhadap usia harapan hidup dan usia harapan lama sekolah, fasilitas kesehatan boleh eksklusif prasarana pendidikan memadai tetapi jika warganya tidak sehat dengan terus memenuhi FASKES yang ada, sekolah - sekolah juga akan kosong akhirnya akan jauh dari kata sejahtera. 

Melihat perkembangan sebuah wilayah harus secara utuh dan kompleks sehingga semua sumberdaya harus ikut mengambil peran dan posisi. Anak muda Sulawesi Tengah harus dengan penuh keyakinan merebut kesejahteraan dari kekayaan negeri ini dengan tetap berkadar sesuai standar bakunya. 

Sebagai anak muda yang tumbuh dan merasakan sosiokultural di Sulawesi Tengah, rasanya pemerintah pusat dalam hal kebijakan pengelolaan energi dan sumber daya mineral hendaknya memberi ruang kebijakan daerah yang lebih besar terhadap persoalan kontrol lingkungan. Percuma investasi besar, FASKES yang baik prasarana pendidikan yang memadai tetapi kami paling masif memenuhi FASKES yang akhirnya mengosongkan bangku sekolah. Data- data pertumbuhan IPM Kami yang seluruhnya kompilasi presentasi begitu sangat subjektif melihat kondisi yang seharusnya. Lalu Apa yang kami pinta dari alam kami yang dikeruk? Ruang sehat yang buruk? Pedidikan sekadarnya? Ekonomi yang memiskinkan warga asli lingkar industri? Sebagai sebuah catatan warga lokal di wilayah idustri juga mengalami pergeseran sosial ketidakmampuannya bersaing oleh modal besar mengharuskannya menepi menjauhi apa yang semestinya menjadi hak ruang hidupnya.

.

.

Ketua Bidang VIII (Pekerjaan umum dan Tata Ruang) BPC HIPMI Morowali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Arsitektur, UMKM, dan Taman Kota Fonuasingko

Apa manfaat berkuliah Proffesional Engineer (Insinyur)?

Tren Ideologis Pemuda Morowali