Ruang Waktu (Sebuah Nalar)
Nalar kritis juga absurd selalu lahir dari makhluk yang disebut manusia. Pandangan lahir berdasar sukacita atau dukacita mewarnai poros dan proses hidup sebagai makhluk sosial.
![]() |
| Dok. Ilustrasi ekspektasi sosial |
Sumber : Unspalsh.com/ dikutip dari kumparan
Jalan hidup tak selalu baik, situasional juga pragmatis menjadi ragam langkah yang dibalut optimisme maupun pesimisme. Hal demikian adalah wajar untuk jalan panjang yang dilalui, dibanyak kisah kita bertaruh untuk sebuah kemenangan dikisah yang lain kita harus kalah semuanya tentang prinsip terhadap tujuan yang dipinta. Apakah menang selalu baik? dan kalah adalah hal yang kurang menyenangkan? Keduanya hanyalah sebuah status quo dari proses yang telah lahir, kita tidak perlu menyesalkannya sebab semua terjadi atas usaha yang dikehendaki.
Benar menang menyenangkan namun kalah juga bukan tercela, sebab setiap ruang yang terbentuk menempatkan batas kemampuan sesuai usahanya, dalam situasi yang lain kalah bisa berbuah baik sebab untuk apa menang jika harus tunduk pada kuasa yang lain, tanggungjawab besar namun otoritas keputusan kecil, keduanya adalah tanggung jawab yang harus di tuntaskan. Dewasa ini secara sadar dihadapkan oleh banyak pendapat yang dilegitimasi sebagai sebuah standar hidup manusia normal.
Kebebasan dimiliki sebebasnya tapi lupa ada hak bebas orang lain yang harus dihargai! Diarahkan bersekolah tinggi untuk sebuah ijazah penentu pengetahuan katanya, meski tidak semua orang berijazah berpengetahuan baik! Dituntut kerja dengan hasil yang besar, meski tidak semua kerja keras yang halal medapatkan hasil besar! Dituntut segera menikah untuk mecapai kesempurnaan hidup, meski tidak semua kesempurnaan datang dengan menikah di waktu yang cepat atau bahkan tidak sama sekali! Kemudian dipastikan mendapatkan momongan sebagai standar bahagia, meski tidak semua bahagia bersumber dari momongan!
Dari banyak kisah hidup yang telah lalu memberi ruang belajar yang cukup untuk kita serap sebagai sebuah proses adaptif guna membangun paradigma baru, mengubur lebih dalam pikiran primordial sebagai rujukan kebebasan bertindak, berkeputusan dengan pertimbangan yang wajar, terukur tanpa menggangu hak berekspresi orang lain.
"Tetaplah berjalan sesuai kebutuhanmu, lupakan legitimasi orang lain, lakukan banyak hal tetapi beri ruang keyakinan bertuhan sebagai batas tindakan"
..
.
.
Founder
Jurnal Pemuda

Komentar
Posting Komentar