Tanahku Kota Tumbal
Morowali, tanah udik, dan terbelakang dibenak kawan Kota. Sungguh. Hari ini udik itu telah pergi, dan yang terbelakang telah lari pun pindah menjadi yang terdepan, tanahku menjelma menjadi kota industri yang nyata. Tanah yang menjadi sumber hidup, bagi negeri merah putih. Tanah yang menjadi separuh nafas pemimpin negeri yang juga mencari hidup.
![]() |
| Dok. Banjir Jl. Trans Sulawesi Sumber : Photo Amatir (Google) |
![]() |
| Kawasan Industri IMIP Sumber : kabarselebes.id |
Sematan udik dan terbelakang tak lagi pantas, cemooh telah menjadi pujian. Bangga? Ia tentu.. namun ditengah perkembangan yang pesat, pembangunan yang meruak. Alam kami meriuk, anak negeri terpelajar berubah goblok, Tanahku dilubangi, hutanku digunduli, gunungku dikeruk oleh pencari hidup terpelajar dan asing, budaya kami digerus yang berujung pada porak poranda sosial.
Kini tanah negeriku dikenali dunia, tanah kaya nekel, biji besi, pasir kerom, magnet dan isi perut bumi lainnya. Lautanku adalah saksi hilir mudik besi mengapung, yang kadang memuntahkan minyak membunuh karang dan penghuninya pun udaraku menjadi saksi hilir mudik besi terbang oleh penguasa aseng dan asing.
Kepada sang pemberi hidup, kuberpesan pada Semesta, tanahku telah memberi secercah harapan kepada mereka yang diberi hidup dan negeriku cukup terbantu dari krisis global yang melanda. Kami beri mereka manfaat atas tanahku tapi mereka beri kami bencana atasnya. Sumber daya kami harusnya lebih maju dari negeri hayal, alam kami harusnya tidak marah, kaum muda harusnya pandai.
Kesenjangan pendidikan nyata adanya, polarisasi budaya merebak, ekonomi melemah, sungguh jauh dari imbalan atas tanah negeri yang kaya.
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar