Ruang Hidup di Cemari, Layakkah Ibukota Sultim di Lingkar Tambang?

Kantor Bupati Morowali
Sumber : morowali.go.id

Masjid Agung Morowali
Sumber : infopalu

Morowali adalah kabupaten kota di ujung timur Sulawesi Tengah. Morowali tumbuh dan berkembang sebagai salah satu raksasa kota industri mineral terbesar di Indonesia. Hiruk pikuk kota industri telah dimulai sejak kedatangan PT. Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) Kehadiran IMIP mampu mengubah peta produsen nikel olahan di Indonesia hanya dalam kurun waktu yang sangat cepat, Sejak tahun 2018 IMIP telah mengungguli PT. VALE Indonesia dan PT. ANTAM yang sebelumnya menguasai produksi nikel olahan di tanah Air. Tenaga kerja yang dibutuhkan juga dalam jumlah banyak tentu telah membuka ruang anak daerah untuk ikut serta berpartisipasi menjadi karyawan dalam kawasan IMIP,  jumlah pengangguran dapat ditekan secara cepat oleh pemerintah daerah melalui kawasan industri ini.

Kawasan Industri IMIP
Sumber : imip.co.id

Titik awal peradaban morowali baru dimulai... pendidikan gratis, kesehatan gratis dan jaminan sosial menjadi andalannya. Namun semua kedigdayaannya juga membawa petaka bagi ruang hidup masyarakatnya. Ada hutan dan tanah yang digerombol dan dilubangi, pepohonan tumbang tanpa pilih, air sungainya kental, lautnya meradang, desa dan kotanya menyapa fajar dan menyonsong senja dengan udara berwarna.

Sejalan dengan euforia kota industri, belakangan muncul wacana pemekaran Provinsi Sulawesi Timur (Sultim) kembali mencuat setelah sempat meredup beberapa tahun silam, mencuatnya isu pemekaran Sultim ini menarik untuk didiskusikan setelah Pemerintah Pusat mempersiapkan rencana pemindahan Ibu Kota Negara dan Pusat Pemerintahan di Pulau Kalimantan. Jika dapat direalisasikan, maka jarak tempuh 'Ibu Kota Negara' ke kawasan timur Indonesia dapat diperpendek. Hal ini tentu membawa dampak positif yang begitu besar untuk Sulawesi Tengah juga rencana pemekaran Provinsi Sulawesi Timur sebagai kawasan kota penyangga Ibu Kota Negara. Ramainya isu Sultim menghadirkan beragam ekspektasi soal dimana Ibu Kota Sultim... dan kabupaten Morowali menjadi satu dari beberapa kab/ kota yang dianggap mampu dan bisa menjadi Ibu Kota, menarik bukan?

Mari kita lihat seberapa siap kota ini?
Jika merujuk pada kondisi eksisting Kabupaten Morowali dari sebelah barat hingga ujung timur... jantung kota morowali terletak tepat di bagian tengah wilayahnya, kondisi ini kemudian menjadi ideal karena mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat secara terpusat dengan jarak tempuh yang sama. Tetapi apajadinya jika morowali dikelilingi raksasa industri? di timur hingga tenggara morowali telah kita lihat superior industri yang dilabeli IMIP, Kemudian belakangan di barat telah muncul tanda- tanda kawasan industri baru oleh PT. BTIGG,  ini ditandai dengan gencarnya pembebasan lahan masyarakat secara besar-besaran yang konon katanya pembebasan lahan ini di suport salah satu perusahaan milik daerah. Bukan tanpa alasan sebab katanya investasi akan mensejajarkan si miskin dan si kaya. Banyaknya jumlah pembebesan lahan membuat tawar menawar harga tanah berlansung alot, masyarakat mulai bersuara lantang, dan berjuang untuk keadilan hak terhadap nilai wajar tanahnya.

Sayang jika kemudian permintaan masyarakat dipenuhi dan harga jual tanahnya sesuai, pertanda ruang hidup mereka siap dicemari. Sebab nilai juang bukan lagi terhadap substansi keberlangsungan lingkungan tetapi lebih kepada keberlangsungan ekonomi sesaat. Jika wilayah timur dan barat telah diisi kawasan industri raksasa.. apa kabar Ibu Kota kita? Apa kabar mimpi SULTIM?

Dahulu masterplan kota cukup membuat hati senang walau akhirnya harus dibangun kawasan industri di timur hingga tenggara Morowali, Ibukota terpusat di tengah dan di barat ada lumbung padi sebagai sumber pangan. Alih-alih persiapan Ibu Kota Sultim dibangun fasilitas publik yang besar, dan perbaikan infrastruktur yang layak. Dibagian tengah dibangun kota mandiri yang dilengkapi dengan berbagai rencana fasilitas publik untuk kawasan urban, persiapan lahan pusat perkantoran baru, fasilitas kesehatan, pendidikan hingga fasilitas sosial dan keamanan sebagai wujud keseriusan pemerintah daerah untuk pembangunan kawasan kota baru saat itu kemudian di barat dibangun bandar udara yang letaknya cukup strategis untuk pengembangan kawasan

Bandar Udara Morowali
Sumber : kemenhub/facebook

Namun apajadinya nanti jika akses berkendara dan bandara saja kita harus melewati kawasan industri baru? Sudahkah anda melewati kawasan IMIP saat berlibur atau bahkan ke provinsi tetangga? Butuh waktu berapa lama hingga bisa melewatinya? Butuh berapa lapis masker hingga anda merasa aman?  Menarik untuk kita diskusikan lebih jauh.


Founder Jurnal Pemuda
Jalaluddin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Arsitektur, UMKM, dan Taman Kota Fonuasingko

Apa manfaat berkuliah Proffesional Engineer (Insinyur)?

Tren Ideologis Pemuda Morowali